Dari ahli elektromedik
faroukamsyari.wordpress.com
faroukamsyari.blogspot.com
Telah terlalu banyak milyaran manusia lahir dan pergi meninggalkan planet ini. Ada yang meninggalkan jejak dalam hidupnya. Namun sangat lebih banyak yang pergi meninggalkan kehidupan dunia tanpa membawa perubahan apa-apa. Hidup ga hidup sama saja. Bahkan dia hidup justru cuma menghabiskan jatah nasi, ngasih berkilo-kilo sampah dan feces. Ga salah makin hari bumi ini makin panas. Hanya orang-orang berfikir yang ga mau masa pengembaraannya di dunia hanyalah masa penantian sia-sia menuju kehidupan yang lebih lama. Maka dalam menangani pemahaman ini secara linear dapat kita lihat perbedaan manusia dalam tiga sudut pandang:
Pertama, orang yang berfikir dangkal. Manusia jenis ini mah jumlahnya mayoritas, deh. Mereka seing mensikapi sesuatu berdasar suara mayoritas atau yang lazim dilakukan kebanyakan masyarakat tanpa menganulir benar-tidaknya duduk persoalan tersebut. Misal jika kita berpapasan dengan segerombolan bebek-bebek yang dipandu penggembalanya. Jika kita tanyakan pada si bebek dari barisan belakang akan ke manakah mereka, kita bakal dapat jawaban”Ga tau, mas. Kita orang baru di sini…”. Cuek dengan keadaan yang ada. Hidup mengalir bagai air. Masa kecil diasuh ortu, gede mulai sekolah biar bisa kerja, udah kerja penginnya segera nikah, udah nikah punya anak. Eh, anaknya gitu juga. Seperti tanpa tujuan lebih dari itu. Datar dan dingin.
Begitupun jika kita bertanya pada bebek yang berada di tengah-tengah barisan. ”Oh, jangan tanya saya. Tanya saja sama yang lebih senior…”. Moderat dengan sistem yang berjalan. Ngapain susah-susah. Demi dibilang warga negara yang baik kek, demi naik prestis daan kepercayaan orang lain, bahkan menggadaikan prinsipnya. Hanya karena takut dengan super power yang sedang menguasainya. Orang seperti inilah yang menyebabkan Belanda, Portugis, dan para penjajah masih ngendon di negeri ini.
Coba deh, tanya pada bebek yang berada di barisan paling depan. Mungkin lebih waras. ”Maaf, bek…kira-kira kalian ini mau dibawa ke mana, sich?!”
”Mmmh…I don’t know deh, mas…dari dulu juga begini…yang penting asoy…mau gabung juga ya, mas?!” Deueueuh, makasih deh. Ternyata sama saja. Ga mikir. Apakah mereka mau dibawa ke peternakan, kolam, atau malah rumah jagal. Wajar aja, mereka khan bebek. Mereka merespon tidak menggunakan akal. Karena mereka hanya diberi potensi instink saja selain kebutuhan pokok. Jadi selama mereka tak merasa terancam, mereka takkan melakukan perubahan. Coba perhatikan, baik kucing di Persia, Arab, maupun yang tiap hari ngabisin jatah ikan di rumah kita. Ketika secara sontak kita kejutkan lalu apa yang terjadi?! Pasti kucing tadi akan lari menghindar menuju mencari suasana yang lebih aman. Inilah naluri bertahan hidup. Lalu apakah pernah kita ketahui demi bertahan hidup, aman, dan nyaman lantas seekor kucing bekerja demi masa tua, membangun rumah, hingga menyewa security??? Tentu tidak. Mereka hanya merespon apa yang sedang terjadi saja. Seperti jika sejak insiden tabrakan twin-towers WTC bertahun-tahun lalu lantas sebagai skenario besar, Amerika menuduh Islam sebagai biang terorisme tanpa bukti yang nyata bahkan banyak pihak non muslim serta warga Amerika sendiri yang mengutuk tindakan pemerintahannya tersebut. Namun kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi sebuah kebenaran. Tak ayal, dengan alasan war on terorrism pihak penjajah bebas mengobrak-abrik negeri-negeri kaum muslim seperti Irak, Afghanistan, Palestina, serta menguasai kebijakan negara anggota PBB dengan retorika ”Kalian bersama kami (USA) ataukah bersama teroris(menuduh Islam)?”Jika hingga saat ini masih kita lihat kekhawatiran umat dengan gelar asal-asalan ini lantas mereka memusuhi orang-orang yang mengkaji Islam atau menghindari predikat Islam pada diri mereka. Banyak yang rela menanggalkan identitas muslim pada diri mereka demi dapat diterima oleh lingkungan. Inilah contoh nyata berpikir hanya sesuai apa yang ada di permukaan. Masih mending jika kolam pemiriannya yang keruh memperlihatkan di permukaannya hanyut benda-benda bermanfaat. Lha, kalo yang hanyut itu kotoran atau bangkai?!
Na’udzubillahi mindzalik.
Kedua, orang-orang yang berfikir mendalam. Yakni orang-orang yang menghabiskan umurnya demi sebuah mahakarya pemikiran selain mahakarya nyata lain. Kehadirannya di dunia mampu mempengaruhi dan bahkan mengubah pola hidup banyak orang. Hingga mereka meninggal dunia saja, seolah mereka beserta buah pemikirannya masih menghantui di sekitar kita. Mudahnya, orang-orang yang berfikir mendalam adalah orang yang berpengaruh sepanjang masa.
Salahsatunya ialah Ir. Soekarno yang pernah mengatakan beri saya sepuluh pemuda maka saya akan mampu mengguncangkan gunung Krakatau. Terbukti semasa hidupnya ia mampu mengguncang Indonesia dengan ideologi Komunisme-Sosialisme. Juga Karl Marx dan Lenin yang masih eksis di hati para pengikutnya sebagai bapak komunisme dunia. Fasisme kaum Nazi di Jerman yang dipimpin Adolf Hitler. Ataupun Charles Darwin yang dengan teori evolusi-nya mengatakan bahwa manusia berasal dari kera. Padahal hingga kiamat pun teori tersebut hanyalah teori tanpa bukti. Namun bagi yang bangga, masih diimani dan disughkan pada buku biologi kita. Sigmund Freud yang mengatakan bahwa segala aktifitas hidup manusia yang melahirkan perdaban sekalipun tak ubahnya hanya karena digerakkan oleh libido seksual semata. Jrrit! Meski tahun 1991 ideologi setan ini resmi terkubur bersama runtuhnya adidaya Uni Soviet dan PKI. Belum genap seabad rakyat kapok dengan paham yang mulai disebar sekitar 1920-an. Meski telah terkubur, pemikirannya masih bergentanyanga di sekitar kita bersama para cecunguknya yang lobbyal. Mereka berada di tengah-tengah kehidupan kita.
Pun di balik berkuasanya USA, Inggris, Israel, dan sekutu tak lepas dari korporatokrasi yang ia mainkan demi bercokolnya Sekulerisme, Kapitalisme, dan Liberalisme (sipilis). Visi yang tak jauh beda dengan motif Perang Salib maupun Revolusi-Revolusi di Barat. Menuntut kebebasan serta mentiadakan hak prerogatif sang Pencipta guna mengatur ciptaannya akibat trauma mereka akan masa kedoktrinan gereja masa Kegelapan Eropa. George W. Bush, Ariel Sharon, John Perkins(pada masa kelamnya), atau malah pemimpin kita adalah sample nyata manusia jenis ke-dua ini.
Ibarat kolam meski terlihat dasarnya, namun terkadang samar-samar. Bahkan tak ada jaminan bahwa di dasarnya ada sesuatu yang membahayakan kita. Entah kerikil tajam, pecahan kaca, hewan buas ataupun ranjau. Dari dua ideologi di atas kita tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa salah satu ataupun keduanya benar. Masih ada jalan…
Ketiga, orang-orang yang berfikir cemerlang. Ibarat kolam ia tak hanya bening airnya hingga dapat kita nikmati pemandangan dasarnya, namun dasar kolam tersebut juga kandungannya bersih hingga layak minum. Ia gunakan akalnya sebelum bertindak. Jadi ga latah karena ia unik. Dari sekitar enam milyar penduduk bumi saat ini ataupun umat muslim yang berjumlah hampir satu setengah milyar namun orang cemerlang faktanya tak ada jaminan berjumlah sampai sepersepuluhnya. Memang yang unik justru yang dicari karena sedikit dan berbeda.
Mereka akui Al Kholiq sebagai letak segala yang ada di alam semesta berasal. Mereka akui kehidupan mereka di dunia terkait hubungan dengan kehidupan sebelum dan sesudah dunia. Jadi mereka merasa bertanggungjawab atas kehidupan yang ia peroleh sekarang. Karena mereka berasa dari Al Kholiq dan pasti akan kembali pula pada-Nya. Hal itulah yang membuat mereka selalu ingat bahwa hidupnya di dunia nicaya berakhir sehingga berlomba-lomba menyemai kebaikan dengan diterapkannya syari’ah Sang Pencipta di bumi-Nya.
Manakah pilihanmu?!
….Ahlan wa sahlan para syabab dakwah. Generasi yang didamba umat dunia.

Remaja Revolusioner
21 12 2010Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : Uncategorized
Komentar Terakhir