Euforia Kelulusan

31 07 2009

euforia-kelulusan Tret..tet..tet… sobat, siang itu terasa begitu ramai, padahal cuacanya panas banget. Itu bukan keriuhan rakyat Indonesia mau mendukung Indonesia all-star ngelawan MU, yang akhirnya ngga jadi. Bukan pula suara simpatisan parpol mau kampanye. Tapi, itu cuman suara temen-temen kita yang lagi melampiaskan suka cita mereka setelah dinyatakan lulus.

Yup, kayaknya udah jadi ritual tahunan bagi para pelajar untuk ngerayain kelulusan mereka dengan hura-hura deh. Entah itu yang SMA, SMK, negeri maupun swasta bahkan yang SMP pun ikut meneladani sikap kakak-kakaknya. Mereka seakan menjadi sosok yang begitu berbeda dibanding saat sebelum ujian. Yang biasanya abis pulang sekolah langsung ke tempat bimbel, tas isinya penuh dengan buku, wajah-wajah suntuk karena belajar (segitunya…) sangat tidak tercermin dalam perilaku mereka saat itu. Bersepeda motor dengan baju penuh corat-coret (mendingan disedekahin tuh!), tingkah yang urakan serta teriakan kegirangan yang membahana. Kayaknya gak ada bedanya deh ama topeng monyet.

Jerih payah semua pihak, baik itu sekolah, orang tua, bahkan saudara-saudara mereka dalam mempersiapkan mereka menghadapi ujian langsung terlupakan. Doa-doa dan ibadah-ibadah yang semakin rajin mereka lakukan sebelum ujian pun seolah tak berbekas sama sekali.

Tentu hal seperti itu sangat ironis sekali. Bagaikan jauh panggang dari api dengan tujuan pendidikan kita. Bukankah kita bersekolah untuk menuntut ilmu? Bukankah seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan kita, semakin tinggi pula tingkat intelektualitas kita?

Tapi sobat, sepertinya itu semua cuma jadi teori. Alumnus pendidikan kita mayoritas hanyalah individu-individu yang minim kepribadian. Yang setingkat SMP hobinya nge-game, yang SMA terkenal hura-hura, yang mahasiswa pun jago tawuran. Tingkat intelektualitasnya pun patut diragukan. Kok bisa lulusan S2 bikin lagu macam ”tak gendong… kemana-mana…”?

Masyarakat kita pun sepertinya sedang mengalami krisis kepercayaan diri yang akut. Berbagai cara dipakai untuk mencapai apa pun yang diinginkan. Terserah bagaimana caranya, ngga peduli halal-haram, benar-salah, langsung aja terabas… Mulai dari pejabat, pengusaha, sampai ke pelajarnya. Ujian ngga’ lagi dijadikan sebagai sarana untuk mengukur kemampuan. Tetapi seakan-akan ujian itu sendirilah yang menjadi tujuan dalam belajar. Seolah setelah lulus ujian, semuanya dianggap selesai. Bila kita lulus dengan nilai memuaskan, berarti kita telah berhasil dalam belajar. Demikian pula sebaliknya, bila kita tidak lulus atau lulus dengan nilai pas-pasan, berarti belajar kita masih kurang.

Lulus menjadi harga mati seorang pelajar dalam menghadapi ujian. Kalo gagal, dunia seakan menjadi kelam (duilee..). Cercaan, rasa bersalah, merasa rendah diri pun langsung muncul. Klo dah gini, langsung deh kehilangan semangat hidup, hidup segan mati pun tak mau. Akibatnya, beban hidup menjadi begitu berat. Narkoba, free sex, hedonisme akhirnya menjadi pelampiasan.

Sobat, memang sebagai seorang manusia, yang namanya pelajar pasti juga punya rasa takut. Takut dimarahi ortu, takut direndahkan, takut dicerca, yang itu semua akhirnya membuat kita merasa takut untuk gagal. Padahal sejatinya, ukuran sukses-gagalnya kita ya di akhirat nanti. Apakah ntar kita sukses meraih ridho-Nya ato justru gagal dengan dimurkai oleh-Nya. Ridho Allah semata yang menjadi tujuan bagi kita, bukannya Ridho Rhoma (klo itu sih, keblinger namanya!!!).

Walhasil, kalau kita sudah paham dengan makna sukses-gagal yang sejati, seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita selayaknya merasa takut. Namun, kita justru lebih takut kepada makhluk dibanding kepada Sang Pencipta. Kita lebih takut ketahuan guru nyontek daripada ketahuan sama Allah. Kita lebih takut dimarahi manusia dibanding dimarahi Allah. Kita lebih takut gagal di dunia daripada gagal di akhirat kelak.

Asalkan tidak melanggar apa yang telah ditetapkan oleh Allah, ndak usah sedikit-sedikit merasa takut untuk gagal di dunia. Tapi, jadikan kegagalan itu sebagai pelajaran bagi kita. Bukankah experience is the best teacher? Jangan sampai kita malah terjerumus ke lubang yang sama berkali-kali. Lha, keledai aja ndak pernah kejeblos lubang yang sama dua kali, masak kita sebagai seorang manusia kalah sama keledai? So, jangan pernah takut untuk gagal di dunia ini! Kalau memang terlanjur gagal, segera bangkit, Live must go on! Jangan malah semakin terpuruk merenungi kegagalan.

Tapi ingat sobat, kesuksesan yang kita raih bukan semata karena usaha kita saja. Tapi, itu semua ada ”campur tangan” dari Allah. Maka dari itu, jangan sombong apalagi sampai takabbur dan kufur terhadap nikmat-Nya. Naudzubillahi min dzalik. Tetap rendah hati dan selalu bersyukur dengan taat kepada-Nya di setiap waktu.

Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar