Euforia Kelulusan

31 07 2009

euforia-kelulusan Tret..tet..tet… sobat, siang itu terasa begitu ramai, padahal cuacanya panas banget. Itu bukan keriuhan rakyat Indonesia mau mendukung Indonesia all-star ngelawan MU, yang akhirnya ngga jadi. Bukan pula suara simpatisan parpol mau kampanye. Tapi, itu cuman suara temen-temen kita yang lagi melampiaskan suka cita mereka setelah dinyatakan lulus.
Baca entri selengkapnya »





Take Me Out

31 07 2009

Sobat, ngobrolin acara tivi emang ga ada abisnya.. Mulai dari acara yang bermanfaat, seperti berita, dokumenter, de el el, sampe acara hiburan yang istilah ndeso-nya infotainment (gubraks..) sarat dengan gaya hidup yang gak syar’i. Gak percaya? Baru-baru ini nih, ada sebuah acara hiburan yang disuguhkan oleh stasiun tivi swasta negeri ini. Apa itu? Yup, kalo kamu ngejawab Take me Out, nilai A deh buat kamu…
Baca entri selengkapnya »





Ilmu Sosial bukan Anak Tiri

7 07 2009

Dr. Fahmi Amhar

Masa keemasan peradaban Islam sering diindikasikan dengan berbagai kemajuan pada bidang ilmu-ilmu agama (ushuluddin, tafsir, hadits, fiqih dan tasawuf) dan ilmu-ilmu alam atau sains (astronomi, matematika, fisika, kimia, kedokteran dan sebagainya). Pertanyaan yang kemudian muncul, di mana posisi ilmu-ilmu sosial?
Baca entri selengkapnya »





Belajar Bahasa untuk Negara Adidaya

1 07 2009

famhar

Dr. Fahmi Amhar

Apa yang ada di benak para pelajar kita ketika mereka wajib mempelajari bahasa asing di sekolah? Setelah matematika, Bahasa Inggris adalah pelajaran momok di sekolah-sekolah umum. Sebagian besar sekolah memberi pelajaran Bahasa Inggris di level SMP dan SMA atau total selama enam tahun. Sebagian lagi bahkan memberi pelajaran ini sejak kelas 1 SD. Hasilnya? Sekedar cukup untuk Ujian Nasional? Cukup untuk menebak makna di balik judul film atau lagu Barat? Untuk isinya nanti dulu. Kalau buat kerja, bahasa Inggris di sekolah tersebut juga jelas belum cukup. Bagaimana kalau untuk belajar ke luar negeri? Atau untuk jadi diplomat? Makanya TKI kita di luar negeri mayoritas hanya mendapat pekerjaan kasar yang murah, salah satunya karena keterbatasan bahasa.
Baca entri selengkapnya »