by: Aryo Cokrowatianto
Sobat, tahu gak sih kalau akhir-akhir ini di salah satu televisi swasta kita ada acara yang namanya “Curhat”. Itu tuh, acara yang dipandu oleh Anjasmara sebagai pembawa acaranya. Konon sih, acara ini banyak mengundang kontroversi. Acara yang sepintas terlihat bagus ini memiliki rating penayangan yang gede lho. Jadi pengen tahu apa aja sih yang ada dalam acara itu? Bagaimana sih Islam memandang tentang masalah itu? Bagaimana juga kita sebagai seorang muslim bersikap terhadap masalah ini. Biar gak penasaran, simak terus ya!!!
Curahan Hati
Sebelum kita membicarakan tentang acara “Curhat”, ada baiknya kalau kita tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan curhat itu sebenarnya. Curhat atau curahan hati merupakan salah satu bentuk perwujudan dari fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Tidak dipungkiri bahwa manusia memerlukan sesuatu untuk menjadi tempat mencurahkan segala isi hati. Entah itu melalui sebuah karya ataupun dengan menceritakan isi hati mereka pada yang lain. Banyak orang yang tidak sanggup untuk menjalani hidup tanpa curhat. Saking urgentnya nih, curhat hampir menjadi kebutuhan pokok manusia. Ibarat kata ”lebih baik gak makan daripada gak curhat”. Sampai segitunya.
Sobat, pada umumnya curhat berhubungan dengan masalah pribadi seseorang. Entah itu mengenai keluarga, pekerjaan, keuangan, dan lain sebagainya. Sering kita jumpai pula bahwa para pelaku curhat berkeinginan agar orang yang mendengar curhat mereka dapat membantu menyelesaikan persoalan mereka. Sekalipun banyak dari orang yang mendengar curhat memberikan tawaran solusi tetapi tidak semua orang dapat memberikan problemsolving yang tepat.
Dalam acara “Curhat”, Anjasmara yang bertugas sebagai host menampilkan beberapa orang yang terlibat dalam konflik pribadi untuk dikonfirmasi satu dengan lainnya. Selain itu dihadapan mereka dihadirkan pula saksi. Mereka didudukkan dalam satu ruangan yang sama untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang terjadi.
Selama acara berlangsung, banyak sekali terlontar kata-kata yang tidak pantas untuk diperdengarkan dari mereka yang terlibat didalamnya. Tidak cukup hanya dengan kata-kata, tindakan-tindakan kekerasan kerap mereka pertontonkan. Apa yang dapat dibuat oleh host jika tindakan-tindakan kekerasan itu terjadi? host hanya dapat berdiri diantara mereka yang berseteru sambil berteriak-teriak untuk meminta mereka agar tenang. Ketegangan yang ditawarkan dalam acara ini sering dihiasi oleh teriakan-teriakan para penonton yang hadir dalam studio.
Tidak Menyelesaikan Masalah
Sobat, disinilah letak kekeliruan dalam acara ini, yaitu tidak terlihat adanya upaya untuk dapat menyelesaikan masalah yang terjadi antara dua pihak yang berseteru. Host yang seharusnya membantu untuk mencari jalan keluar dari pertikaian ini nyatanya tidak memberikan solusi atas problem yang dihadapi. Malahan host menyerahkan penilaian tentang masalah ini kembali kepada pemirsa.
Di samping itu, tidak adanya batasan-batasan yang jelas bagi para pelaku curhat menjadi pemicu kacaunya acara yang berlangsung. Batasan-batasan yang dimaksud adalah mengenai apa saja yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh para pelaku curhat sebagai narasumber. Perilaku narasumber yang tidak terkontrol ini menyebabkan pemirsa yang melihat tayangan ini secara tidak langsung terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh narasumber. Sebab acara ini ditayangkan pada waktu prime time dimana mayoritas pemirsa yang menyaksikan adalah remaja dan anak-anak yang belum mampu untuk memilah hal-hal yang mana yang patut dan tidak patut untuk ditiru.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan acara tersebut hanya untuk mengejar rating pemirsa. Acara ini mengabaikan unsur-unsur yang seharusnya ada dalam sebuah tayangan, seperti pendidikan dan kontrol sosial. Dalam acara ini, hanya unsur hiburan saja yang ditonjolkan, meski bagi sebagian orang nyatanya acara ini tidak menghibur. Tayangan ini juga dengan jelas telah melanggar kode etik jurnalistik mengenai eksploitasi kekerasan dalam penyiaran.
Islam See It
Islam adalah agama yang berisi dengan aturan-aturan dari Sang Mahakuasa untuk mengatur kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengatur tentang masalah ibadah atau akhlak saja. Tetapi Islam juga memberikan aturan bagi manusia dalam hal bermu’amalah. Televisi merupakan salah satu media massa yang digunakan manusia dalam bermu’amalah. Pemanfaatan televisi dalam hal informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial merupakan hak-hak masyarakat.
Dalam Islam, media media massa memiliki pengaruh penting dalam pembentukan masyarakat. Masyarakat adalah sekumpulan individu yang memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama. Peran media adalah untuk menjadikan masyarakat memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan yang Islami. Jadi pemanfaatan televisi dalam berbagai hal harus didasari dengan Islam tidak dibiarkan bebas sebebas-bebasnya.
Dalam kasus ini, acara “Curhat” menayangkan suatu tayangan yang tidak sesuai dengan Islam. Adegan saling caci, saling hujat, dan perkelahian yang sengaja untuk diekspos dalam acara ini menunjukkan sifat-sifat orang fasik. Sebab Rasulullah saw bersabda,”Mencaci-maki muslim adalah kefasikan”(Mutafaq ‘alaih). Selain itu Rasulullah saw juga bersabda,” orang-orang yang suka melaknat (orang yang beriman) tidak akan menjadi pembela (bagi sebagian yang lain) dan tidak akan menjadi saksi di hari kiamat.”(HR. Muslim).
Sobat, sekarang sudah jelas kan kalau acara “Curhat” ini tidak sesuai dengan Islam. Acara-acara yang hanya menjadikan rating sebagai patokan sesungguhnya secara tidak langsung telah menjerumuskan masyarakat kedalam jurang kebodohan dan kenistaan. Terlepas acara itu real atau hanya bohong belaka, yang jelas acara ini tidak dapat mejadikan masyarakat kita menjadi masyarakat yang baik. Dalam hal ini, seharusnya pemerintah memberikan batasan-batasan yang jelas serta sanksi yang tegas bagi para pelanggarnya. Cara ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mewujudkan masyarakat yang baik, yaitu masyarakat yang Islami tentunya.
Sebagai seorang pemuda muslim, kita seharusnya turut serta dalam melakukan kontrol terhadap acara-acara semacam ini. Acara yang membuat kemerosotan masyarakat. bukan malah bangga dengan acara-acara yang efeknya sangat negatif seperti ini. Bagaimana cara kita bisa melakukan itu? Dengan mengkaji dan mendakwahkannya tentunya.(AC)
Komentar Terakhir