“Film-film sejarah memiliki daya kreativitas yang sangat tinggi. Film-film modern hanya memiliki kelebihan di bidang dialog dan teknik pembuatannya, tetapi ia tidak memiliki kreativitas tersebut. Kita umat muslimin, memiliki masa lalu yang indah, yang sangat berguna untuk kita jadikan sebagai pelajaran bagi masa depan kita. Kekhawatiran besar saya ialah terhadap jebakan-jebakan yang dipasang oleh musuh-musuh kita. Jebakan-jebakan ini mereka tebarkan melalui propaganda lewat media-media massa mereka. Menurutku media massa dapat dijadikan sebagai senjata yang jauh lebih mematikan daripada bom dan tank”. Moustapha Akkad_Sutradara film Ar-Risalah alias The Message.
Seperti ketakutan yang diungkapkan oleh Moustapha Akkad dalam cuplikan di atas. Memang sekuat itulah peran media massa. Media massa sangat berpengaruh dalam kehidupan kita karena tak mungkin kita terlepas dari datangnya berbagai informasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Kan, klo ga ikut perkembangan jaman, ga seruuu!!!
Dalam film Tomorrow Never Dies, sang tokoh antagonisnya, Carver pernah mengatakan, “Sekarang informasi menjadi senjata baru…dan satelit menjadi artileri yang baru. Bila Julius Caesar memiliki legioner, Napoleon memiliki pasukan, saya memiliki divisi saya sendiri : televisi, surat kabar, majalah, dan malam ini…saya akan menjangkau lebih banyak orang dibanding yang dapat di jangkau orang-orang lain, kecuali Tuhan sendiri.” Weleh…weleh… hebat benget ya!
Media massa menjadi alat ampuh untuk menyebarluaskan informasi dan menyuntikkan kebiasaan kepada masyarakat. Yang tadinya biasa, bisa jadi nampak luar biasa dan yang tidak benarpun diolah sehingga nampak benar.
Tak dapat dipungkiri, banyak media-media yang telah mencuci otak kita. Ya, kita-kita yang merupakan generasi muda muslim. Pernah membaca playboy?(moga2 blom…) or lihat acara Reality show seperti “Katakan Cinta”, “Harap-Harap Cemas (H2C)”, atau “Playboy Kabel”? Atau ajang pencarian bakat dalam AFI, KDI, Indonesian Idol, atau API? Nah, secara ga sadar hal itu sangat berpengaruh pada pemikiran kita. Apalagi bagi orang-orang yang awam pengetahuannya tentang Islam. Padahal seperti yang kita ketahui, itu semua ga ada dalam kamuz Islam.
Ada tulisan menarik di Harian Suara Pembaruan. Disebutkan panjang lebar bahwa arus deras media massa yang menghujani Indonesia, ternyata nggak hanya memunculkan fenomena baru dalam kebudayaan negeri ini, atau sekadar perubahan ekonomi politik, tapi juga menandai kelahiran sebuah generasi baru, yang bisa dikatakan tercerabut dari masa lalu.
Dimulai sejak Oil Boom pada dekade 70-an, kemajuan sosial ekonomi memang mendatangi negeri ini, ditambah masuknya kebudayaan pop yang notabene didominasi Barat. Ditandai dengan industrialisasi barang-barang budaya seperti makanan, pakaian dan kesenian, tapi lebih dari itu, kebudayaan jenis ini membawa masyarakat pada fenomena McWorld.
McWorld adalah sebuah dunia yang dicirikan dengan globalisme, informasi, hiburan, dan komersialisme. Maka, McWorld ditandai oleh tiga buah ikon penting; MTV, Macintosh, dan McDonald,. Sebuah paradigma berpikir global McWorld akhirnya membawa manusia Indonesia pada sebuah fenomena global, internasionalisasi budaya dan konsumerisme.
Generasi yang lahir pada dekade 70-an dan 80-an yang saat ini menjadi remaja, pemuda, siswa sekolah menengah, dan mahasiswa hidup dalam era McWorld. Mereka hidup dalam hujan deras informasi, terutama di kota-kota besar. Generasi itu hidup dalam multikulturalisme dan pluralisme nilai. Gaya hidup mereka kerap kali kehilangan identitas ketika harus merumuskan ke-Indonesia-an. Mereka dibesarkan dalam tingkat kemapanan yang cukup tinggi dan akses yang begitu luas terhadap media informasi. (www.suarapembaruan.com 5 April 2000)
Waduh pren, saya kepikiran sama kamu-kamu, para remaja. Kenapa? Karena remajalah yang paling rentan termakan oleh gaya hidup ini. Perang ideologi nggak bisa dihindarkan lagi sobat, alias pasti terjadi benturan. Parahnya lagi, seperti diakui banyak pengamat, hal ini bergerak amat cepat. Saking cepatnya, sampe tanpa sadar kita dipaksa patuh. Genderang perang udah ditabuh saudara-saudara!
Maka sikap bijaksana wajib kita miliki. Supaya nggak keburu nafsu menghukumi yang halal menjadi haram atau sebaliknya. Yang benar kita ambil, dan yang salah kita buang. Inilah tantangannya bagi kita. Tentu, tantangan yang harus dihadapi dengan bijaksana dan butuh penyelesaian jitu. Iya nggak?
Dan, sekarang kita kudu lebih cerdas lagi dalam menyikapinya. Bukan apa-apa, ekspansi media ini makin berbahaya karena ditunjang dengan teknologi canggih. Internet misalnya, sudah merupakan kebutuhan tersendiri. Bukan fasilitas mewah lagi. Setiap orang hampir bisa dipastikan mampu mengakses dengan mudah. Wah, padahal nggak semua informasi yang ditampilkan mendidik. Akses informasi nyaris tanpa batas dan sulit dibendung.
Nggak ada jalan lain kecuali waspada memang. Waspada dalam pengertian tidak mudah tergoda dengan hal-hal baru yang bukan berasal dari Islam. Kamu harus pilih-pilih dulu. Jangan langsung caplok aja. Pokoknya pandai memilih dan memilah.
Dan perlu dingat, patokan yang kamu pakai untuk menilai budaya tersebut adalah ajaran Islam. Kalo menurut Islam haram, maka kamu jangan maksa mengambil atau melakukan sesuatu itu. Dan sebaliknya bila menurut Islam itu boleh atau halal, kamu nggak dilarang untuk mengambil atau mengamalkannya. Well, jadi kamu dituntut untuk bisa bertanggung jawab. Dan itu cuma bisa dilakukan bila kamu udah paham tentang Islam. Maka, kalo belum paham soal Islam, jangan nekat melabrak. Harus tahu diri, kamu kudu belajar dulu tentang nilai-nilai Islam. Memang harus diakui, penjagaan diri itu nggak cukup. Harus didukung oleh pengawasan masyarakat dan kekuasaan sebuah negara. Tujuannya? Supaya lebih joss! Lebih kuat, mantap dan oke!
Sebagai rasa sayang kita ke sesama saudara, ayo selamatkan saudara-saudara kita yang belum tahu dengan memberi tahu mereka, biar kita semua senantiasa berada di jalan yang lurus sehingga kita dapat berkumpul bersama-sama kelak di akhirat_di surga-Nya. Amin…..
Dengan demikian, kita wajib waspada, jangan sampai terjerumus mengikuti budaya dan gaya hidup selain Islam. Kita bisa menang kawan. Terus semangat untuk “mewarnai” dunia dengan Islam. So, ayo berjuang demi ISLAM!!!
Wallahu a’lam bi ash shawab. [ ]
Komentar Terakhir