Sobat, kamu pasti ga asing lagi dengan istilah MOS. Apalagi untuk kamu siswa baru yang lagi ’anyar-anyar’-nya masuk to the new school. Yup…apapun namanya, Masa Orientasi Siswa (MOS), pasti digebyar buat kamu semua. Pas kamu jejakkan kaki di skul baru, MOS dan para panitianya siap nyambut dengan muka penuh senyum dan wajah penuh keramahan (ini majas ironi lho…). Jangan tengsin deh…
Sobat, Masa Orientasi Siswa sebenarnya ga jelek-jelek amat artinya. Acara itu memang sengaja disusun untuk ngenalin kamu semua ke keadaan skul baru kalian. Sekaligus berbagai pernak-pernik yang ada. Tujuannya, supaya kamu semua ga kaku dan kaget ngejalani PBM (proses belajar mengajar) di wilayah baru itu. Istilah konkritnya nih, beradaptasi ama sikon yang ada, biar ga tegang dan canggung dengan skul baru tadi.
Teori MOS
Yang kita tahu nih, pedoman asal MOS utamanya ngasih masukan moral dan jiwa education buat para siswa baru, agar bisa bersaing secara sehat dalam belajar. Ningkatin prestasi so pasti, belum lagi ajakan dari para guru dan perangkat sekolah supaya siswa baru bertambah dewasa dalam menempuh PBM di sekolah…ga canggung dengan kondisi yang ditawarkan dan lebih mudah interaksi dengan kawan. Tuh sae bener kan…Sekumpulan teori tadi digabungkan dalam acara MOS, yang berupa teori dan praktek. Teori, pada umumnya diberikan oleh para guru, sedang praktek diserahin sepenuhnya ama panitia dan siswa baru.
Kenyataan yang terjadi di lapangan, secara umum MOS berisi 20% teori dan 80% praktek. Generally, acara MOS dipegang penuh ama panitia yang umumnya anak OSIS dan kelas dua. Panitia MOS yang umumnya kelas dua SMA punya tanggung jawab penuh buat didik adik-adiknya. Karena mereka yang punya jatah lebih untuk ngatur siswa baru. Namun sayang, konsep yang ga jelas dalam pelaksanaan MOS dan emosional yang ga matang, ga jarang njadiin MOS sebagai ajang pembantaian dan balas dendam masal kepada adik-adik kelas satu, karena pada tahun sebelumnya mereka mengalami hal yang serupa dari kakak kelasnya yang sekarang duduk dikelas tiga SMA. Bentakan, cemoohan, uring-uringan, sampai panitia sok keren yang nggodain anak kelas satu yang cakep, dll….udah jadi menu keseharian MOS. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan sama Rosulullah SAW. Mengapa? Karena dari Abu Darda` r.a. sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya Allah SWT membenci orang yang berbuat keji dan berkata jorok.” (HR. at Thirmidzi)
Nah lho, mau dibenci sama Allah SWT. ??
Apapun teorinya, MOS banyak disalahgunakan sama panitia MOS untuk ngeruk keuntungan yang besar dengan modal sekecil-kecilnya (ini kata Adam Smith). Menurut mereka sih, acara MOS yang penuh ama bentakan dan cemoohan, bisa didik adik kelas satu jadi dewasa (gombal atuh). Kedewasaan ga bakal bisa muncul kalo adik-adik kelas satu dibentak terus-terusan. Jadi bulan-bulanan kemarahan. Apalagi disuruh pake atribut yang ga ada hubungannya dengan jiwa seorang pelajar. Inikah dewasa itu? Kan malah seperti anak kecil, keliru dikit dimarahi…trus dikibuli di sana, dibohongi disini. Makanya kita bilang apa…gombal kan. Dari al Mughirah bin Syu`bah r.a. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai 3 perkara dari kalian, yaitu banyak berbicara, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya (dalam perkara yang tidak perlu dipertanyakan.” (HR. Mutafaq`alaihi) Apa ga cukup peringatan dari kekasih Allah SWT. tadi buat kita. Supaya kita ga ngelakuin hal-hal yang mubadzir, malah bisa-bisa nambah deposit dosa. Belum lagi ajaran panitia MOS untuk bawa perlengkapan yang ga ada hubungannya sama sekali ama MOS. Walah…ini PBM yang mana lagi?…Mana sih jiwa kedewasaan yang mereka ajarkan?
Justru di sini, nunjukin kalo jiwa kakak kelas yang jadi panitia sama sekali ga genap dewasa. Ga kreatif. Buktinya mereka masih aja niru aktivitas MOS tahun lalu, yang hasilnya ya…gitu deh. Bisa dilihat sendiri kan…mereka yang sekarang jadi panitia (nihil ato gak ngefek sama sekali). Mana sih yang disebut kakak yang dewasa? Kakak yang bisa bimbing adiknya? Non sense men… Semestinya sebagai pelajar..kita juga berpikir kreatif, ga hanya meniru apalagi mengeplot acara MOS sebagai lip sing kita pada adik-adik yang masih hijau. Buat dong acara MOS yang lebih kreatif, yang bisa jadiin adek kelas baru terus berpacu buat nambah prestasi. Tambahin juga dong spirit Islam buat mereka, biar ga garing gitu…ingat fren ilmu tanpa iman itu jadiin danger, iman tanpa ilmu itu bikin kita kesasar.
“….Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (TQS. An-Nisa’[4]: 1).
Sobat…MOS yang awal teorinya katanya bagus, bisa jadi memble kalo kita ga bisa menej dengan bagus. Kalo terus begini, generasi hasil cetakan MOS yang takut ama senior (ga tumbuh kedewasaannya), generasi plagiat, dan generasi pendendam akan terus muncul. Apalagi si siswa baru bertekad akan ngelakuin hal yang sama tahun depan. Udah…jadilah MOS sebagai budaya dan tradisi skolah yang ga bisa hilang karena hal yang sama akan terus terulang dan terulang. Jadi dosa jaiiyah dech. Trus kalo gini, kita kapan majunya bro…??
Padahal nih, masih banyak jalan lain yang lebih ikhsan (baik). Yaitu jalan dimana kita bisa nunjukin diri kita sebagai kakak kelas yang baik. Yang ngasih contoh the good senior buat adek-adek kita. Anak yang baru, yang hidup di kota baru…yang mestinya kita bimbing supaya jadi lebih dewasa dan mandiri. Namun kalo cara yang kita lakuin seperti neo imperialisme MOSini gak berhenti sampai disini, maka adik kita yang baru tadi akan nganggap hal ini sebagai tradisi dan budaya kota barunya untuk dilestarikan dan diteruskan. Inget dosa jariyah.
Nah sebagai penutup, Dari al-Hasan, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang mengolok-olok manusia, akan dibukakan pintu surga bagi salah satu dari mereka. Kemudian dikatakan kepadanya, “Kemarilah..kemarilah!!” Lalu dia datang dengan membawa kebingungan dan kegundahannya. Ketika dia datang, pintu itu ditutup. Kemudian dibukalah pintu yang lain baginya dan dikatakan kepadanya, “Kemarilah..kemarilah..”Kemudian dia datang dengan membawa kebingungan dan kegundahannya, ketika dia datang, maka pintu itu ditutup. Hal itu terus dilakukan……….sehingga dia tidak mendatanginya lagi karena putus asa.” (HR. Baihaqi). Jadi katakan…sorry…tiada maaf bagi MOS. [ ]
Komentar Terakhir