Special Report-Dakwah Saat Masa Orientasi Siswa (MOS)

17 07 2008

Beberapa hari yang lalu, salah satu anggota forlima menyebarkan selebaran kecil di sebuah SMA negeri di Surabaya, yang berisi tentang koreksi terhadap perpeloncoan yang terjadi di sekolah tersebut. Selebaran bertuliskan himbauan supaya anak-anak siswa baru SMA tidak takut terhadap tindakan dzolim seniornya. Bentakan, cacian hingga tugas yang tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar di sekolah terus diberikan dari hari ke hari. Selebaran tadi juga berisi 2 hadits Rasulullah SAW yang melarang perkataan jorok dan hinaan serta tanda-tanda orang munafik. Tidak ada maksud apapun dari anggota forlima tersebut, selain mengharapkan ridho Allah dan mencoba mengoreksi atau muhasabah terhadap pihak sekolah, OSIS, dan para senior, sehingga mampu bertindak penuh kasih sayang kepada adik-adik kelasnya.

Toh, pihak Diknas telah memberikan amanah kepada sekolah dimanapun, supaya tidak terjadi perpeloncoan di sekolah dan melarang tindakan bullying terhadap siswa baru. Namun masih ada beberapa sekolah yang memberi lampu hijau. Beberapa stasiun televisi juga telah mengadakan talk show dan bincang-bincang khusus tentang maraknya perpeloncoan ini, dan tentunya dari sudut pandang manapun, baik sekolah, agama, profesionalitas, dan kemanusiaan, tindakan perpeloncoan tidak bisa dibenarkan.

Namun yang terjadi malah sebaliknya. Anggota forlima tadi malah dibawa oleh panitia MOS yang mayoritas terdiri dari pengurus OSIS ke sebuah ruangan. Dan disana di depan sekitar 60 panitia, anggota forlima tersebut dipojokkan oleh cercaan pertanyaan dan umpatan dari panitia MOS. Tidak cukup sampai disitu, anggota forlima tersebut, kemudian dibawa menghadap ke kepala sekolah untuk dimintai pertanggungjawaban, dengan alasan tidak meminta izin menyebarkan selebaran dan mengopinikan fitnah kepada sekolah tersebut. Bahkan anggota forlima tersebut diancam dikeluarkan dari sekolah. Beberapa guru juga ikut menuduh anggota forlima dengan dalih tidak sopan, menghina kreatifitas siswa dan lain-lain.

Sobat semua, seharusnya kita lihat lebih jernih. Sebagai seorang muslim, seharusnya yang jadi pedoman kita adalah Al Qur’an dan Al Hadits, bukan yang lain. Rasulullah SAW telah melarang tindakan perpeloncoan (Simak buku Nafsiyah Islamiyah Sub-bab Ciri-ciri akhlak tercela). Sebagai seorang pelajar, seharusnya kita membuktikan intelektualitas kita dengan memberikan perkataan yang bermanfaat dan berguna, bukannya celaan dan hinaan. Sebagai seorang guru, seyogyanya kita juga mengingatkan kepada diri kita dan anak didik kita sehingga terhindar dari tindakan kemaksiatan lidah, dan memberikan solusi pembinaan siswa yang lebih dewasa dan bijaksana. Bukannya berusaha melindungi kemunkaran yang ada.

Apakah kita rela anak didik kita terkena dosa jariyah karena telah memberikan warisan berupa tindakan perpeloncoan? Apakah kita tidak malu di hadapan Allah nanti, bila kita bersama rekan-rekan kita secara terang-terangan melawan perintah Rasulullah?

Berbahagialah kita, apabila kita melakukan kesalahan kemudian kita diingatkan, lalu kita sadar. Dan celakalah kita, apabila kita diingatkan, kita malah menghina seseorang yang mengingatkan.

Wahai saudaraku anggota forlima, tetap teguhlah di jalan Allah.

Sesungguhnya Allah akan menolong siapapun yang menolong agama-Nya.

Pembina forlima-Dhony F. Yusuf, S.Si


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar